EN8MA: Meletakkan Dada di Dalam Kepala yang Mengembara SOKA GALLERY 27 August - 10 September 2008
Catatan Kuratorial Eriyandi Budiman
Mukadimah
Ketika ringtone di handphone berbunyi, saya tidak sedang mengingat Roland Barthes 1). Tapi diam-diam ada benang merah yang kemudian akan berhubungan dengannya. Saat itu, saya sedang mencoba menafsir-nafsir paradoks atas pemahaman saya terhadap karya-karya perupa FX Harsono dalam pameran bertajuk Aftertaste 2) di Jakarta beberapa waktu lalu. Tafsir memang bisa meluas, bisa pula menyempit. Saat itu, saya tidak sedang mencoba ‘angkuh’ menjadi elit intelektual, ketika tafsir saya tiba-tiba seperti orang awam yang menangkap kembali paradoks estetik, ketika sebuah karya digunakan sebagai kritik dengan cara otokritik sekaligus menimbulkan kritik baru: haruskah kekerasan ditafsir ulang (diberi kritik lagi) dengan cara yang hakikatnya sama? Manakah yang lebih sublim: hakikat penyadaran atau hakikat estetik itu sendiri? Haruskah kekerasan dikritik dengan kekerasan lagi, meskipun dengan cara yang lebih santun (metaforis)?
Jawabannya memang bisa ya dan tidak, dan keduanya membawa konsekwensi. Dan saya ingat ucapan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) yang pernah menyatakan (mohon maaf jika saya lupa teks lengkapnya) bahwa berkata secara arogan kepada yang sangat sangat arogan adalah semacam sodaqoh 3). Jadi saya pikir, sodaqoh FX Harsono akan punya bobot makna mendalam jika tasirnya menjadi seperti ucapan Gus Dur itu. Apalagi pada karya-karya di Aftertaste itu, tafsir saya tidak membacanya sebagai arogansi, namun kritik yang lebih halus tetapi bisa sangat menyengat. Ekspresinya sangat metaforis. Dan pikiran saya tak ingin terus menjadi pusaran masalah ikhtilaf atau khilafiyah estetik.
Ya, handphone itu mengirim ajakan dai Eddy Hermanto dan Azasi Adi, untuk memberikan semacam pembacaan saya terhadap karya-karya mereka bersama 6 pelukis lainnya, yang di hadirkan dengan tajuk EN8MA (baca: enigma; 4). Enigma merupakan sesuatu atau sebuah kondisi yang menimbulkan multi tafsir, teka-teki, yang oleh Roland Barthes digunakan untuk menjelaskan setiap makna, dalam hal ini berkaitan dengan cara menafsir sebuah karya lukis. Sebagai murid kebudayaan dunia yang ingin terus belajar, ajakan itu menggembirakan. Mengingat sebagai manusia yang mencoba mursyid saya kira perlu pemahaman faktual agar menjadi penafsir yang tidak tumbuh sebagai pohon yang salah memberi bunga atau buah. Saya harus belajar dari tafsir yang keliru juga tafsir yang benar, agar saya bisa melampaui “titian serambut di belah tujuh” 5) dalam masalah estetik. Apalagi jika menghadapi karya-karya yang auratik, yang didalam medan tasfirnya memerlukan pengetahuan dan kebijakan.
Untuk mencoba mengejar fakta-fakta yang ingin dihadirkan dalam pameran EN8MA ini, membongkar pikiran para pelukisnya tentu menjadi hal penting. Posisi saya tidak harus menjadi penasfir dahulu tentunya. Saya tidak sedang menjadi kritikus tentunya. Jalan itu saya tempuh untuk berguru kepada mereka tentang kemungkinan banyak ‘ayat-ayat etik dan estetik’ yang tersembunyi.
Dalam pandangan awal saya, pameran EN8MA kali ini, menampakan semacam “sebuah sitem pameran yang bersistem”. Dalam satu sistem yang diikat dalam tajuk enigma, kemudian terdapat sub sistem yang menggarap tema-tema tertentu. Ibaratnya, kita diajak masuk ke dalam sebuah ‘mall tematik’. Jadi secara unik ada yang memang membedakan dengan pameran-pameran seni rupa (khususnya lukis) yang biasa digelar selama ini.
Setelah Badai Kertas: menggamit Poststrukturalis hingga Resepsi
Di sebuah pameran buku, di tengah area yang memanjangkan istilah Alfin Toffler tentang ‘Badai Kertas’, saya disuguhi karya-karya Azasi Adi dalam bentuk cetakan. Karyanya berupa citraan vertikal huruf alif, huruf pertama dalam bahasa Arab. Gambarannya berupa seperti tonggak, berwarna coklat, yang berdiri di atas bidang putih kanvas. Di atas tonggak itu masing-masing diberi satu teks huruf Arab gundul 6) yang merujuk sesuai judul karya yakni RUKUN ISLAM, dan jika dibaca bunyinya ialah Ash Shahadah, Ash Shalah, Az Zakat, Ash Shaum, dan Al Haj. Lima karya ini terpisah di masing-masing kanvas 120 x 90 cm, namun membawa kesatuan karya, atau sebuah paket. Setiap karya terikat dalam satu judul umum tentang Rukun Islam.
Karya kaligrafi ini ditampilkan secara minimalis dan sederhana. Huruf-huruf Arab yang diterakan dibuat tanpa pretensi estetik kaligrafi yang ‘wah’ atau diperindah dengan tata warna dan gaya. Azasi Adi nampaknya memang tidak berpretensi pula menjadi pelukis kaligrafi. Ia, seperti diuraikannya, lebih memaparkan esensi dari setiap kata dalam rukun Islam itu sendiri. Karya ini menjadi ‘hidup’ atau metaforistik dengan penghadiran semacam tonggak yang bisa disimbolkan pula pada sosok manusia. Pemaparan Azasi lebih lengkap, ketika ia menaruh garis putih yang masing-masing memotong tonggak itu menjadi dua bidang yang berlainan. Masing-masing peletakan garis itu menyiratkan arti tertentu, sesuai tasfir dia terhadap masing-masing teks rukun Islam itu sendiri.
Dalam terminologi Islam, karya pertama yakni Ash Shahadah/syahadat 7), adalah semacam teks yang mengungkapkan sesuatu yang harus diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilakukan dengan amal perbuatan. Sahadat adalah perjanjian manusia dengan Tuhan, yakni pengakuan terhadap Allah sebagai Yang Esa (tiada Tuhan/Allah selain Allah) dan Muhammad adalah utusan Allah. Sahadat adalah berupa dua kalimat pertama yang harus ducapkan seorang manusia yang akan memeluk Islam sebagai keyakinannya. Titik berat bahwa dua kalimat syahadat itu harus diucapkan, ditegaskan dalam karya Azasi ini dengan memberikan garis putih horizontal pada bidang vertikal itu pada seukuran mulut. Yakni simbol ucapan.
Garis putih itu memang lantas menjadi penanda masing-masing arti dari setiap teks rukun Islam itu. Pada karya ke dua, Ash Sholat/sholat, garis itu berada pada setingkatan leher. Azasi melihat shalat adalah cara kedekatan khalik dan mahluknya yang berada di antara urat leher 8). Pada karya ke tiga, Az Zakat/zakat 9), garis itu berada di setingkatan dada. Saku memang sering ada di dada, katanya, dimana uang tertidur di sana, dan dibangunkan saat memberikan sebagian dari rejeki. Namun metaforis utamanya ialah bahwa pemberian zakat harus ikhlas, harus dengan kalapangan dada kesucian hati. Pada karya ke empat, Ash Shaum/puasa 10), garis putih diterakan pada seukuran perut dan mahluk yang terimbuni sejengkal di bawahnya. Semacam metafor penting bahwa puasa yang utama ialah menahan gejolak liar kebutuhan perut dan syahwat. Sedangkan pada karya ke lima, Al Haj/haji 11), garis putih lebih ke bawah lagi, yakni seukuran tumit kaki. Berhaji memerlukan kerja kaki untuk berjalan, sebagai simbol perjuangan melangkah.
Pengamatan dalam kacamata strukturalisme semacam itu, memang dapat mendedahkan karya dalam tafsir tingkat pertama. Namun tentu sebuah karya tidak harus sedingin itu diterjemahkan, sehingga aura lain dari hakikat karya itu tidak muncul. Namun bukan berarti pendekatan struktural ini dapat diabaikan. Anggaplah ia kunci pertama untuk memasuki dimensi tafsir lainnya. Toh ikon-ikon Azasi, meski yang hadir berbentuk minimalis, tak berarti minim tafsir. Bagaimana pun hakikatnya, perupa yang memulai debutnya lewat pameran tunggal Super Dance Soccer Road To World Cup di Galeri Kita, Bandung, 2006 ini, menemukan bentuk ucap kaligrafi yang sublimatif, sebagaimana Srihadi menemukan bentukan garis yang membentuk candi Borobudur yang meditatif itu.
Di sisi lain, dan ini lebih penting, Azasi Adi membuat ranah tersendiri dengan membuat sitem karya yang berupa paket. Karya semacam Rukun Islam ini, menurut pengakuannya, tidak akan dibuat untuk – misalnya Rukun Iman atau yang bagaimana pun- sesuatu yang dianggap pengembangan gaya/karakter/ atau cirri khasnya. Karya itu telah ajeg sebagai sebuah sistem paket. Di karya-karya berikutnya akan tumbuh gaya lain. Paket-paket yang lain, yang hanya menginduk pada pencapaian sublimasi.
Sistem paket itu memang telah dia buat pada pameran seni rupa Super Dance Soccer Road To World Cup , dimana Azasi Adi membatasi 21 karya lukis yang khusus bertema bola sebagai satu paket dengan satu gaya melukis, yakni figur minimalis pula 12).
Sistem ini tentu melampaui batas strukturalisme pula, dimana karya berfungsi tidak hanya sekedar mengantar tanda dan penanda saja. Kita maphum bahwa strukturalisme melahirkan pasca-strukturalisme, dimana orang memahaminya sebagai kerja penyempurnaan implikasi-implikasi strukturalisme. Namun ada pula anggapan bahwa ia melampaui hal itu. Jika strukturalisme heroik dalam kehendaknya untuk menguasai dunia tanda yang dibuat orang, maka pasca-strukturalisme adalah komik dan anti-heroik dalam penolakannya terhadap tuntutan semacam itu secara sungguh-sungguh. Bagaimana pun juga, ejekan pasca-strukturalisme terhadap strukturalisme serupa dengan mengejek diri sendiri: pasca-strukturalisme adalah para strukturalis yang tiba-tiba melihat jurusan mereka yang keliru.13).
Barthes dalam esei pendeknya “Kematian Penulis” (1968) menolak pandangan tradisional, yang menyatakan bahwa pengarang adalah asal usul teks, sumber artinya, dan satu-satunya otoritas penafsir. Fatwa ini merujuk pada karya (khususnya sastra) dari latar sejarah dan biografi. Para Kritkikus Baru kemudian percaya bahwa kesatuan sebuah teks tidak terletak pada intensi pengarangnya, tetapi dalam strukturnya14).
Fenomena post strukturalisme dalam sastra itu, dimana teriakan ‘pengarang sudah mati’ ketika sebuah teks dilahirkan, secara intertekstual dapat dihubungkan pada tataran enigmatisnya dengan karya seni rupa bahkan visual arts. Perupa (sang kreator) memang bisa saja telah menghuni peti mati ketika karyanya gentayangan di ranah etik dan estetiknya. Namun kasus dalam seni sastra juga seni rupa dan lebih lebar ke visual arts, kasus kematian sang author ini, tidaklah saklek benar. Bagaimana pun sang kreator memberi kode-kode tertentu pada karyanya, sehingga tasfir atas sebuah karya tidaklah 100% tanpa melibatkan kerja etik dan estetik kreatornya. Pandangan aliran resepsi, yang memberi wewenang penuh pada apresiator untuk bebas menafsir, toh justru kemudian tidak bisa mengelak adanya teka-teki yang selalu ingin dipecahkan para apresiator (termasuk para kritikus) terhadap kode-kode yang dihadirkan seorang kreator lewat karyanya. Ribuan artikel yang membahas hubungan lukisan Monalisa dengan Leonardo Da Vinci misalnya, mengukuhkan enigamatis karya-karya seni yang tak lepas dari kode-kode visual, rupa, dan budayanya.
Ini pula yang saya baca ketika menghadapi karya Abdurahman Abro yang memilih tema uang. Uang dalam karyanya ditarik lebar ke wilayah yang lebih luas. Ia menjadi sangat metaforis, ketika dihubungkan ke ranah ekonomi, spikologi, politik, bahkan ke dekontruksi wilayah seni rupa, yakni tentang seni lukis kontemporer yang masih bingung dihadapi para apresiator dan para perupa itu sendiri. Kang Abro memberi kode-kode faktual hingga yang sakral mengenai fenomena uang ini. Abdurahman Abro juga –misalnya – memberi tekanan khusus pada kritiknya atas fenomena seni kontemporer pada karya HARMONEY#3. Bagaimana pun, teks pada kanvas yang disertakan memberi tekanan yang tidak melebar, yakni merujuk khusus pada fenomena contemporary art. Bahwa kemudian di wilayah itu karyanya melahirkan banyak tafsir sekitar contempoary art itu sendiri, itu masalah lain. Dalam artian merupakan pelebaran dari kasus yang terbatas.
Pandangan itu akan lain, bila kita melihat karyanya pada HARMONEY#1, dimana karya ini lebih enigmatis, karena sosok potongan setengah wajah yang bibirnya diberi lipstik bisa ditarik-tarik ke wilayah tafsir yang lebih luas daripada karya tentang fenomena contemporary art tadi. Harmoney sendiri, bagi saya misalnya, ia bisa ditafsir sebagai kata maupun frasa. Apalagai bila ada penambahan menjadi disharmoney. Tafsir ikutannya akan membawa pada alomorf maupun alofon yang lain.
Tafsir yang lebih bersahaja, justru lahir dari Abun Adira, yang menampilkan figur-figur realis wajah seniman seperti Jeihan, Barli, Affandi, hingga sosok yang ia kenal secara akrab dalam hatinya. Abun lebih memilih ungkapan yang tidak problematik pula, karena ia tak menampilkan sosok itu dalam tataran yang lebih dramatis. Ia pun seperti tak berkehendak untuk menampilkan senyum hingga tawa tertentu yang lebih simbolis atau metaforis. Ia tak menghadirkan misteri di situ. Tapi tentu tak ada larangan bagi yang menemukan misteri pula pada karyanya itu.
Justru secara psikologis, tokoh yang dipilih memang lebih enigmatis. Bagaimana pun secara historis dan piskologis, pemilihan terhadap seorang tokoh bagi seorang perupa (yang juga bisa saja jadi tokoh, bahkan melangkah ke tingkat selebritisitas) adalah misteri yang juga tersembunyi. Taruhlah di situ, Abun menahan super ego gaya freudian-nya sebagai batas kesadaran bagi kerendahan hatinya. Ia tak seperti FX Harsono atau Affandi yang kadang menjadikan dirinya sebagai objek karya. Pun di situ, Abun tak memperlakukan sebuah dekontruksi artistik, tidak sebagaimana halnya bila kita melihat pada karya-karya pop art seperti Andy Warhol yang menampilkan Elvis dan Marylin Monroe dalam tataran dekontruksi. Saya lebih asyik menikmati sisi psikologis lain yang tersembunyi pada kedekatan emosi sang pelukis ini dengan pilihan subjek matter-nya. Sosok yang disebutnya “Monika” misalnya, yang konon sering jadi buah bibir dan bunga mata di kalangan perupa, bukankah bisa menjadi sangat enigmatis? Apakah di sana ada pembacaan lain terhadap ‘ayat-ayat artistiknya’?
Paket tafsir lain yang ditawarkan Dodo Abdullah, berupa beberapa sosok yang dihubungkan dengan risleting. Sosok biru sewarna kain bluejeans ia hadirkan sebagai bagian strategi artistik yang lain, setelah ia berkutat dengan lukisan-lukisan berpola bluejeans pada karya-karya sebelumnya. Periode bluejeans dalam perjalanan karir kepelukisan Dodo Abdulah sendiri, merupakan periode penting pelukis ini. Pada periode itu, ia berhasil meloncat jauh ke penemuan estetiknya, hingga ia bisa diterima sebagai pelukis yang tak berada pada jarak yang tak terlalu jauh dengan pelukis-pelukis modern pada jamannya, atau yang umum disebut pelukis kontemporer. Periode ini berhasil mengangkat Dodo Abdullah sebagai pelukis yang tak lelah berinovasi atau menjelajah ke ruang tanpa batas dunia imajinasi.
Gejolak itu kemudian kian terasa pada karya-karya yang menitikberatkan simbol risleting sebagai penyerta karya-karya sosok warna bluejens-nya ini, seperti pada karya TOP lah. Taruhlah ia makin tendesius untuk berusaha menghadirkan karya yang bisa lebih dimaknai. Lebih metaforis. Ia menyiratkan kehendak tentang fenomena keterbukaan di negerinya, yang ternyata kemudian melahirkan problematika lain. Baik berupa salah tafsir, salah menggunakan kata keterbukaan itu sendiri, serta dampak ikutannya yang berhubungan dengan politik hingga moral.
Metafor yang lebih tersembunyi dihadirkan Ratman DS yang mengusung paket abstrak impresionis, dengan pewarnaan yang segar. Pelukis yang dulu dikenal sebagai pelukis figuratif ini, memilih ‘paket sunyi’ namun dengan tampilan warna yang ramai, meski tak berarti jadi gaduh. Paket ini masih segenerasi dengan karya-karya pameran tunggalnya belum lama ini, yang menampikkan abstraksi dengan imbuhan daun-daun. Seperti pengakuannya, ia ingin keluar dari stereotif pelukis figur. Lompatan seperti itu memang beresiko. Namun pilihannya tidak salah, khususnya bagi saya, karena kemudian karya Ratman DS lebih enigmatik dengan karya-karya abstrak dan abstraksi, seperti terlihat pada karyanya I-ve been a wait too long.
Di paket abstraks dan abstraksi dalam pameran EN8MA ini, Ratman menyoal tentang makna waktu, sesuatu yang secara spiritual diyakini betapa pentingnya memaknai atau mengisi waktu yang diberikan Tuhan kepada manusia 15). Bulatan senada jam pada karyanya, menjadi imbuhan sekaligus pembacaan penting terhadap teka-teki dalam karya abstraknya. Ikon ini, yang terlihat sebagai imbuhan, justru menjadi kata kunci yang membuka tafsir yang pelebarannya dilakukan dengan komposisi warna dan garis.
Masagoeng yang dikenal dengan karya-karya figuratifnya yang mendekati realisme Chusin, memang juga sedang mencoba memberi tarikan tasfir lain atas karya-karya figur realisnya. Karya-karya Masagoeng berada pada teknik tinggi ungkapan realis piguratif. Sebagai cantrik di keluarga besar Studio Barli, pencapaian Masagoeng di tingkat teknis ini memang terbilang luar biasa. Saya selalu merasakan getaran lain melihat karya-karyanya.
Yang paling menarik adalah sublimasi tertentu yang muncul dari aura subjek matternya. Selalu ada situasi psikologis tertentu pada objek-objek yang dipilihnya. Objeknya seperti air tergenang yang berisi cerminan-cerminan situasi di sekitar sang air yang bisa menyembunyikan rahasia langit dan tanah. Pada karya seperti Skyscraper yang menghadirkan sosok bocah menumpukan tangannya pada bola, ia memberi imbuhan garis-garis merah arsitektural yang memberi tekanan lain pada situasi psikologis objeknya. Garis-garis itu makin mengundang tafsir lain bahwa ada teka-teki yang juga ingin ia terakan.
Simbolisme yang surealistik dipilih Budhy Noor. Karya-karyanya berusaha menghadirkan suasana lain, tentang kesunyian maupun keterasingan serta dalam beberapa hal situasi yang mungkin dirasakan sangat lengang. Perhatiannya saya lihat lebih kepada situasi lingkungan yang baginya menjadi wilayah yang selalu menyimpan paradoks. Ada seberkas pikiran bahwa alam yang memberi banyak sorga bagi napas kehidupan ini dieksplorasi bahkan dieksploitasi, hingga akan mencapai titik tersunyi bagi alam beserta kehidupan di dalamnya.
Karya-karyanya menjadi lebih simbolis, ketika susunan subjek matternya membentuk semacam orkestra kesunyian. Karyanya seperti Portent, berupa daun melayang di antara langit dan bumi, yang hanya menyisakan segenangan air. Secara teknis karyanya memang mengarah ke naturalistik, namun suasana yang dibangunnya lebih terasa sebagai karya yang surealistik.
Karya yang lebih enigmatik, kemudian sangat terasa pada karya-karya Eddy Hermanto. Pelukis yang juga dikenal sebagai kartunis dan karikaturis ini, memang tak lepas dari ungkapan simbolis. Sebelumnya ia banyak menjelajah bentuk ungkap, dan kemudian menemukan kekuatan pada gayanya yang mengarah ke pola ungkap abstrak dan abstraksi. Sebelumnya, ia memberi imbuhan dengan batu-batu yang terbang dalam karya abstraknya yang dipadukan dengan pola-pola garis bermedium potlot bercampur akrilik. Simbol yang dihadirkan adalah bentukan-bentukan abstraksi non piguratif, dan lebih menekankan pada efek simbol benda-benda yang melayang.
Di pameran EN8MA ini, Eddy Hermanto menghadirkan paket absrtaknya dengan penyertaan simbol kodok/katak. Ia bermaksud menekankan pada situasi kebebasan yang kini diraih bangsa ini, yakni sudah mulai berada pada situasi katak yang sudah ke luar dari tempurungnya. Ia melihat dan berharap ada lompatan lebih besar dan jauh dari bangsa ini, untuk mengisi berbagai hal dengan kebermaknaan. Di sisi pewarnaan, dominasi warna orange yang mendekati merah serta abu, membawa enigma lain yang diusungnya. Karyanya seperti The Last Frog, selain penghadiran simbol katak yang membuat karyanya lebih metaforis, juga diberi beberapa imbuhan coretan ekspresif yang membuat karyanya sangat kuat dalam komposisi garis, bidang, dan warna.
Di sisi psikologis, karya dalam paket katak yang ke luar dari tempurungnya ini, adalah semacam ungkapan kegembiraan sang pelukis ini sendiri, sebagai pelukis yang telah makin percaya diri di jalur penemuan estetiknya, meski ia tetap rendah hati. Periode abstrak dan abstraksi simbolis ini, menjadikannya sebagai pelukis kontemporer yang kian diperhitungkan.
Catatan Penutup
Usai penemuan teknologi cetak, yang memungkinkan milyaran kertas menjadi badai yang membawa teks ke seluruh penjuru dunia, karya seni juga saling bermigrasi membawa karya bersama pemikiran yang menyertainya. Pun kini di jaman era teknologi informasi elektronik, yang juga menghasilkan budaya digital, proses migrasi itu kian kencang. Karya-karya hibrida, baik pengaruh Barat maupun Timur jauh, bermunculan, khususnya di Indonesia. Dan salah satu kekuatan yang ada, khususnya pada karya lukis, ialah bagaimana mengemas setiap karya hibrid itu punya kekentalan khas Indonesia.
Tentu penjelajahan untuk menemukan karya semacam itu tidak mudah. Pun ketika persoalan pengaruh dan kekhasan menjadi dinisbikan. Di jaman postmodern ini, karya-karya para pelukis dalam paket pameran EN8MA kali ini, nampak berupaya menemukan bentuk-bentuk ucap yang punya bobot estetik tinggi. Mereka juga berupaya menggagas sebuah pameran yang menyertakan sub sistem dalam pola pameran yang terencana. Seperti yang mereka ungkapkan, EN8MA merupakan tajuk atau judul pameran yang mengusung tema “Fraktal”, yakni perkembangan wabah atau gejala regular seni rupa kontemporer saat ini. Seniman atau perupa yang turut serta dalam pameran ini, mengusung karya-karya dengan corak bahasa rupa kekinian namun dengan substansi pencitraan dan idiom subject matter cukup bervariasi.
Karya-karya yang hadir, saya kira juga merupakan gambaran bagaimana mereka meletakan dada, hati mereka, pada kepalanya yang mengembara. Maka pola kebermaknaan karya menjadi penting bagi mereka. Karya mereka memberi ajakan perenungan terhadap berbagai gejala kemasyarakatan, lewat simbol-simbol visual yang mengundang ribuan medan tafsir. Mereka membawa semacam dua mata uang logam, yang mengedepakan estetik berbekal pengetahuan visual, juga muatan kepedualian sosial dan spiritual yang menjadikan fakta sebagai basis imajinasi di dalamnya.
Eriyandi Budiman
Bandung, 9-10Agustus 2008.
Keterangan:
1. Roland Barthes adalah ahli teori Perancis yang paling menyenangkan, jenaka, dan berani pada tahun 1960-an dan tahun 1970-an. Karirnya mengalami beberapa putaran, tetapi bertahan pada sebuah tema pusat: konvensionalitas semua bentuk penggambaran. Ia mendefinisikan kesusateraan (dalam sebuah esei awalnya) sebagai “sebuah pesan pemaknaan hal-hal yang bukan maknanya (dengan ‘pemaknaan saya menunjuk ke proses yang menghasilkan makna itu sendiri’). Ia menggemakan definisi Roman Jacobson tentang ‘yang puitik’ sebagai ‘perangkat bagi pesan’, tetapi Barthes menekankan pada proses pemaknaan, yang tampak makin kurang dapat diramalkan sebagai hasil karyanya. (lihat lebih jauh dalam A READER GUIDE TO CONTEMPORARY LITERARRY THEORY – Harvester -wheatsheaf (Panduan Membaca Teori Sastra Masa Kini), karya Raman Selden, terjemahan Dr. rachmat Djoko Pradopo, UGM –PRESS, hal 76).
2. Afertaste adalah salah satu pameran yang menunjukkan tanda pergeseran ‘caon ekspresi mutakhir FX Harsono, yang dikenal dalam narasi perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, sebagai seniman dengan kecenderungan karya-karya yang dinilai sangat bersifat kritis bahkan ‘politis’, serta dengan penamilan karya yang ‘cenderung bersih’ serta banyak memanfaatkan efek digital.
3. Memberikan sebagian kekayaan (harta hingga pengetahuan bahkan sikap) kepada orang lain, yang dianggap pantas menerimanya.
4. Angka 8 pada kata EN8GMA sebagai pengganti huruf Y/I sekaligus menandai 8 pelukis yang ikut serta dalam pameran ini.
5. Dalam terminilogi Islam, jembatan yang berada di atas neraka menuju sorga (kebahagiaan) diibaratkan titian serambut dibelah tujuh, yang menunjukkan ikonitas betapa sukarnya melewati hal tersebut.
6. Teks huruf Arab atau dalam kitab Al Qur’an yang tanpa makhraj, atau tanpa penyertaan/penujukkan bunyi vokal.
7. Para Wali Sanga misalnya menggunakan dua kalimat sahadat ini, sebagai ‘tiket’ untuk pengunjung yang menonton kesenian yang mereka pergelaran serta berisi dakwah.
8. Kedekatan Tuhan dengan Mahluknya diibaratkan sedekat dengan nyawa (disimbolkan urat leher/nadi), sehingga Tuhan sebenarnya tidak pernah jauh dari khaliknya. Pemikir Kristen Barat modern mengambil idiom ini, dengan menyebut bahwa keimanan adalah gen yang telah ditanamkan Tuhan kepada mahluk-Nya.
9. Zakat merupakan salah satu kewajiban umat Islam bagi yang mampu, untuk memberikan hartanya, kepada orang yang berhak menerimanya (mustahik zakat).
10. Inti puasa adalah menahan lapar dan dahaga serta syahwat, dari sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari.
11. Haji merupakan rukun Islam yang mendorong umat Islam agar mencari penghidupan dunia, agar mampu beribadah ke tanah suci Mekah. Fakta ini mendorong keseimbangan antara ibadah untuk akhirat dan dunia. Makna haji sebagai ‘keberangkatan ke tanah suci’, juga dapat mempunyai idiom bagi yang dekat dengan kota suci Mekah, untuk berkomunikasi dengan pemeluk Islam di penjuru dunia.
12. Super Dance Soccer merupakan pameran karya Azasi Adi yang menampilkan berbagai gambaran dari kegelisahan dirinya tentang apa yang disebutnya sistem. Yaitu tentang suatu tatanan yang ideal yang diandaikannya dapat membuat suatu perubahan ke arah yang lebih baik. Tentang apa pun namanya, baik tentang dunia kesenian, perdagangan bahkan tentang persepakbolaan di kota kelahirannya, Bandung. Sistem yang terencana, terpadu dan berkelanjutan itu penting ditegaskan. Pikiran tentang sistem inilah yang kemudian diaplikasikan dalam media lukisan dan instalasi dengan objek pencitraan momen sepakbola, yang kemudian menjadi tema pameran ini, yaitu “Tarian Sepakbola”. Ia merekam gerakan keindahan tubuh para pemain sepak bola yang sedang bertarung, yang kemudian diolahnya sedemikian rupa hingga mengesankan sebuah tarian yang indah. Setiap gerakan tertentu memiliki nama, dan setiap gerakan memiliki tujuan dalam mengendalikan arah menuju target. Dalam pengantar pameran ini, Prof. Kacob Sumardjo menyebut bahwa pameran lukisan Azasi Adi ini mengajak pengunjung bukan hanya untuk membaca lukisan-lukisan, tetapi membaca pameran itu sendiri. Meskipun setiap lukisannya mengandung simbol-simbol, tetapi simbol dasarnya adalah seluruh lukisannya, sebanayak 21 buah. Kita dikenalkan pada suatu metode pameran yang lain, yakni pentingnya mengangkat tema. Sebuah pameran bisa disusun berdasarkan tema sentral, sehingga mengunjungi sebuah pameran seperti membaca sebuah buku. Di situ ada bab-bab yang disusun sebagai suatu kesatuan. Cara berpameran ini disebut pelukisnya sendiri sebagai pameran bersistem. Dengan metode ini setiap pameran akan berbeda dengan pameran lainnya. Pameran bersistem adalah sebuah novel, bukan kumpulan cerpen, sebuah buku, bukan kumpulan artikel (katalog pameran –hal 1-3, dengan editing oleh penulis).
Pemikiran Azasi Adi ini saya kira juga terlihat pada paket karyanya (sub sistem) yang dibatasi lima buah pada karya Rukun Islam dalam pameran EN8GMA yang juga ditampilkan minimalis. Paket-paket tema dari 7 pelukis lainnya, juga ibarat sub sistem tema umum mengenai tema tentang tafsir/teka-teki.
13. Pemikiran Roland Barthes bisa dilihat pada karyanya The Pleasure of the Text, terj. R. Miller (Hil & Wang, New York, 1975); S/Z, terj. Miller Hil & Wang, New York; Jonathan Cape, London 1975); juga “Kematian Pengarang” dalam Image Music-Text, terj. S. Heath (Hil & Wang, New York; Fontana; London, 1977).
14. Formula pasca strukturaslime Barthes memungkinkan pengarang dilepaskan dari semua status metafisik dan direduksi menjadi tempat (persimpangan jalan), di mana bahasa, yang merupakan gudang titipan ikonik, perulangan gema beragam alofon, dan referensi leksikal hingga gramatikal yang tak terbatas, saling mengisi maupun bersimpangan. Maka, pembaca bebas memasuki teks dari arah mana pun. Tidak ada rute yang pasti. Kematian pengarang sudah termaktub dalam strukturalisme, yang memperlakukan ucapan setiap individu (parole) sebagai hasil sistem impersonal (languages). Barthes menekankan bahwa para pembaca (penafsir) bebas membuka dan menutup pemaknaan teks tanpa mematuhi petanda. Ia menyebut para pembaca juga sebagai tempat-tempat kerajaan bahasa, tetapi mereka bebas menghubungkan teks dengan sistem arti dan mengabaikan ‘intensi’ pengarang. Pandangan Barthes ini kemudian berkembang pula pada bagaimana memandang ‘kematian perupa’. Dalam faktanya, memang bisa saja sebuah karya, termasuk judul karya, juga gaya melukis (termasuk aliran) lebih dikenal/isnpiratif bagi para apresiatornya.
15. Ratman DS merujuk pada surat Al Ashri, yang menunjukkan bahwa manusia yang menggunakan waktu dalam keimanan dan untuk beramal saleh, adalah orang yang tidak merugi.